Para Kadang Tani Dimanapun Berada:
Pada kesempatan Hari Internasional Anti Korupsi yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2009 ini seluruh anggota Tani Maju Indonesia sangat perlu dan wajib merenung, melakukan introspeksi yang mendalam tentang praktek-praktek KORUPSI yang terjadi di negeri kita tercinta ini.
Kita gembira sekali bahwa semua orang di Indonesia sudah mulai “melek” dan paham bahwa KORUPSILAH biang keladi hancurnya sendi-sendi kehidupan di negeri ini. Revolusi 1945 yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan pendahulu kita untuk mencapai kehidupan yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur telah tertahan oleh kekuatan dan semangat “KORUP” para penguasa negeri. Dalam beberapa dasawarsa ini penguasa negeri telah terlena dan melupakan tugas utama membangun negeri dan justru melakukan dan membesarkan praktek KORUP yang nyata-nyata telah menyengsarakan rakyat Indonesia untuk tujuan memperkaya diri pribadi dan kelompoknya.
Perilaku korup yang dipertontonkan oleh para penegak hukum, pemimpin pemerintahan baik ditingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Kelurahan telah merajalela tak terbendung dan sudah menjadi rahasia umum bahwa uang “beselan” demikian kata-kata jargon yang sangat populer dimasa lalu selalu mengiringi setiap orang dalam urusan-urusan rutinya dengan pemerintahan.
Cita-cita Revolusi 1945 pun hilang sirna karena korupsi. Koruptor memang sulit dibrantas dan konon khabarnya Bung Karno jatuh juga gara-gara mencoba membrantas korupsi di masa itu. Dan sejarah mencatat lebih dari 30 tahun di masa regim korupt Soeharto Indonesia betul-betul dikangkangi para koruptor 100%. Pada masa regim Soeharto ini pesta korupsi terlihat dimana-mana, dikantor, dijalan, dikebun dan bahkan ditengah lautan.
Korupsi tidak hanya merusak moral bangsa Indonesia, namun menghambat kemajuan negara dan bangsanya untuk menapaki jalan maju membangun negeri, membangun generasi bangsa yang mandiri merdeka, berdaulat adil dan makmur seperti cita-cita para pejuang Revolusi 1945 kita. Bayangkan saja, triyunan rupiah uang dari hutang luar negeri yang semestinya dipakai untuk membangun infrastruktur vital milik publik di negeri ini jatuh ketangan para penguasa melalui praktek KORUPSI yang sangat akut. Sehingga fasilitas dan infrastruktur pertanian yang sangat dibutuhkan para petani sampai sekarang sangat minim.
Uang trilunan rupiah itu semestinya bisa dipakai untuk membangun saluran irigasi yang panjangnya beribu-ribu kilometer. atau dapat dipergunakan untuk membangun ratusan pabrik pupuk organik yang dapat diandalkan, atau membangun balai latihan pertanian dan peternakan yang lebih banyak disetiap sudut negeri atau membangun dermaga-dermaga para nelayan yang lebih representatif dll. Namun hal ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saat ini karena pemerintah tidak memiliki dana cukup untuk membangun infrastruktur itu. Tapi ironisnya uang trilyunan rupiah seperti dalam kasus Bank Century 6.7 triliun, menguap tanpa bekas. Belum lagi uang-uang rakyat yang digelapkan dalam kasus BLBI dimasa lalu.
Kita semestinya malu bahwa selama 54 tahun Indonesia merdeka kita masih berkutat pada agenda-agenda pemberantasan KORUPSI. Kita mesti malu pada diri sendiri, kepada bangsa-bangsa dunia, kepada Tuhan YME, bahwa kita belum bisa membrantas korupsi sampai seakar-akarnya. Kita mestinya malu bahwa REFORMASI yang telah bergulir sejak tahun 1998 lalupun masih mensisakan praktek korupsi yang dilakukan oleh para penegak hukum dan pejabat pusat pemerintahan kita.
Oleh karena itulah maka pada kesempatan Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember 2009 ini kita segenap masyarakat Tani se Indonesia wajib hukumnya untuk mendorong pembersihan praktik korupsi dimanapun berada. Babat habis perilaku korupsi dan seret para pelanggar hukum ke pengadilan yang bersih.
Saatnya generasi tani melakukan perlawanan yang gigih terhadap praktek korupsi yang telah menyengsarakan rakyat, dan kita wajib berjuang untuk memperoleh kemerdekaan, kemandirian, kedaulatan , keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan yang kita dambakan.
Perjuangan para pendahulu kita belum selesai dan saatnya kita lanjutkan untuk mencapai cita-cita Indonesia yang Merdeka Adil dan Makmur.
Selamat Berjuang kadang taniku, benteng terakhir Indonesia. Maju Terus Pantang Mundur!. Keluhuran generasi kita yang akan datang sangat tergantung apa yang kita kerjakan saat ini, hari ini.
Singkirkan Kepala Batu ! Ganyang Koruptor ! Ganyang tikus-tikus berdasi !
Merdeka ! Merdeka !
Prasetyo Oedjiantono
Ketua Umum