Feeds:
Posts
Comments

Mengenang Gus Dur,
Gus Dur adalah seorang cendekia, seorang ulama, seorang humanis,
seorang humoris, seorang yang berani menentang arus, seorang sahabat
maupun lawan yang terhormat. Dan seorang yang cerdas !

Dia berani mengambil sikap dalam pikiran, pandangannya maupun tindakan
yang diyakini bahwa itu benar meskipun menentang arus masyarakat umum.

Salah satu yang dicatat masyarakat luas adalah permintaan maafnya
kepada korban 65  atas pembantaian yang dilakukan oleh massa banser
pada tahun 1965/1966. Itulah suatu sikap yang oleh sebagian korban
1965 diterima sebagai sikap seorang pemimpin besar, berjiwa besar.
Tidak ada suatu lembaga negara manapun maupun sosok pribadi pemimpin
golongan manapun di negeri ini, selain Gus Dur dan Nahdlatul Ulamanya
yang berani meminta maaf secara terbuka kepada korban 1965 atas
tragedi kemanusiaan yang telah merenggut  nyawa hampir 3 juta jiwa
melayang.

Banyak lagi keberanian beliau juga dalam melakukan reformasi ditubuh
pemerintahan semasa beliau menjadi presiden RI setelah rejim Soeharto
terguling. Juga keberanian beliau mengkritisi anggota DPR dengan
mengatakan “anggota DPR kok seperti taman kanak-kanak” ditengah
situasi masih maraknya iklim “kong-kalikong” antara anggota Dewan dan
birokrat pemerintah pada periode order baru sebelumnya.

Banyak yang bisa diambil pelajaran dari sosok Gusdur. Sikap yang
sungguh sangat terbuka dalam beda pendapat ditujukkan sewaktu beliau
berujar kepada saya dalam kesempatan saya berkunjung ke kantor beliau
beberapa tahun yang lalu. ” Bung tujuan perjuangan anda dan saya itu
sama hanya saja lingkungan anda dan lingkungan saya berbeda, sehingga
cara yang anda tempuh dan cara yang saya tempuh juga akan berbeda”.

Itulah Gusdur, bapak dan guru saya.

Selamat jalan Gus ! Semoga pencerahan anda akan membawa terang di bumi pertiwi.

“Semoga Tuhan akan menerima amal perbuatannya semasa hidup dan
mengampuni segala dosa-dosanya semasa hidupnya, dan semoga keluarga
yang ditinggalkan dapat melanjutkan perjuangan Gusdur yang belum
selesai”

Amien!

Prasetyo

Advertisements

Oleh Doni, Surabaya

Kepada Yth Mitra Mitra Tani Di seluruh Nusantara.

Kami hanya ingin berbagi dan bertukar pendapat di sini sbb :

Berdasar survei para ahli Pertanian kita, lahan lahan pertanian di Nusantara ini sudah lebih dari 60 persen dalam kondisi kritis. dalam arti unsur hara tanah sudah jauh di bawah kadar normal yang 4 – 5 persen. Banyak lahan lahan pertanian yang unsur haranya tinggal 2 persen, bahkan ada yang 1 persen. Dikatakan bahwa penggerusan unsur hara ini terjadi akibat pemakaian pupuk pupuk kimia sintetis, juga pestisida dan obat obatan kimia yang berlebihan. Selain unsur hara yang tergerus, pupuk pupuk yang berbasis amonia seperti urea akan menurunkan PH tanah, dan juga membuat tanah semakin lama semakin keras ( bantat ) dan tandus.

Sedangkan pestisida dan obat obatan kimia yang bersifat racun akan membunuh serangga serangga yang berguna dan tanaman, juga mikroorganisme mikroorganisme tanah. Cacing sebagai salah satu pendukung kesuburan tanah – mati – demikian pula gangang, jamur, cendawan dan bakteri yang lain. Siklus kehidupan di dalam tanah terhenti total yang tertinggal hanya endapan endapan racun racun dari zat zat kimia.

Akibat dari itu semua,tanah menjadi tandus, sakit dan hasil panen dari waktu ke waktu semakin merosot. Jika ingin mendapatkan hasil yang tinggi, pemakaian pupuk pupuk kimia harus dinaikkan dosisnya – dalam jangka panjang tanah akan semakin rusak. Seperti yang kami katakan pestisida dan obat obatan kimia akan membunuh serangga yang berguna dan serangga pengganggu,jadi semuanya mati. Saat ini yang ada hanya serangga penggangu sedangkan serangga berguna sudah susah ditemukan. Hama hama semakin ganas karena jika ada yang lolos, mereka akan berevolusi secara genetik dan akan kembali dengan daya tahan yang jauh lebih hebat – jadi, mereka akan kebal dengan dosis yang biasa – dosis harus dinaikkan yang berarti kadar racun makin bertambah.

Kontaminasi racun sudah dalam tahapan berbahaya bagi kesehatan kita semua. Mengingat kondisi lahan lahan pertanian yang seperti itu, sudah merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita semua untuk mengembalikan kesuburan lahan, bukan malah terus merusaknya. Perbaikan lahan kritis bisa dilakukan dengan cara menambahkan bahan bahan organik ditambah Asam Humus/Humic Acid sebagai pemacu percepatan mikroba tanah ( Soil Microbe Accelerator ).

Para ahli pertanian internasional sudah mengadakan percobaan percobaan dan riset untuk perbaikan lahan. Dikatakan Asam Humus/Humic Acid mempunyai peranan sangat Vital untuk perbaikan lahan. Untuk menaikkan unsur hara 1 persen diperlukan waktu sekitar 60 tahun jika hanya diberikan kompos 20 ton per ha, tetapi jika pakai Asam Humus/Humic Acid 10 ton per ha waktu yang diperlukan hanya sekitar 3 tahun saja.

Marilah kita coba bersama sama mengembalikan kesuburan lahan lahan pertanian kita agar hasil pertanian bisa naik secara bertahap yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan kita semua. Hentikan pengrusakan lahan lahan dan lingkungan kita mulai sekarang.

Jika mitra mitra tani berminat pada pupuk organik cair lengkap berbasis Asam Humus/Humic Acid; bisa kontak kami di email ini; atau di mpp_surabaya@yahoo.com atau sms di 08161398114 /031 78069387

Salam sukses, Doni

Para Kadang Tani Dimanapun Berada:

Pada kesempatan Hari Internasional Anti Korupsi yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2009 ini seluruh anggota Tani Maju Indonesia sangat perlu dan wajib merenung, melakukan introspeksi yang mendalam tentang praktek-praktek KORUPSI yang terjadi di negeri kita tercinta ini.

Kita gembira sekali bahwa semua orang di Indonesia sudah mulai “melek” dan paham bahwa KORUPSILAH biang keladi hancurnya sendi-sendi kehidupan di negeri ini. Revolusi 1945 yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan pendahulu kita untuk mencapai kehidupan yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur telah tertahan oleh kekuatan dan semangat  “KORUP” para penguasa negeri. Dalam beberapa dasawarsa ini penguasa negeri telah terlena dan melupakan tugas utama membangun negeri dan justru melakukan dan membesarkan praktek KORUP yang nyata-nyata telah menyengsarakan rakyat Indonesia untuk tujuan memperkaya diri pribadi dan kelompoknya.

Perilaku korup yang dipertontonkan oleh para penegak hukum, pemimpin pemerintahan baik ditingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Kelurahan telah merajalela tak terbendung dan sudah menjadi rahasia umum bahwa uang “beselan” demikian kata-kata jargon yang sangat populer dimasa lalu selalu mengiringi setiap orang dalam urusan-urusan rutinya dengan pemerintahan.

Cita-cita Revolusi 1945 pun hilang sirna karena korupsi. Koruptor memang sulit dibrantas dan konon khabarnya Bung Karno jatuh juga gara-gara mencoba membrantas korupsi di masa itu. Dan sejarah mencatat lebih dari 30 tahun di masa regim korupt Soeharto Indonesia betul-betul dikangkangi para koruptor 100%. Pada masa regim Soeharto ini pesta korupsi terlihat dimana-mana, dikantor, dijalan, dikebun dan bahkan ditengah lautan.

Korupsi tidak hanya merusak moral bangsa Indonesia, namun menghambat kemajuan negara dan bangsanya untuk menapaki jalan maju membangun negeri, membangun generasi bangsa yang mandiri merdeka, berdaulat adil dan makmur seperti cita-cita para pejuang Revolusi 1945 kita. Bayangkan saja, triyunan rupiah uang dari hutang luar negeri yang semestinya dipakai untuk membangun infrastruktur vital milik publik di negeri ini jatuh ketangan para penguasa melalui praktek KORUPSI yang sangat akut. Sehingga fasilitas dan infrastruktur pertanian yang sangat dibutuhkan para petani sampai sekarang sangat minim.

Uang trilunan rupiah itu semestinya bisa dipakai untuk membangun saluran irigasi yang panjangnya beribu-ribu kilometer. atau dapat dipergunakan untuk membangun ratusan pabrik pupuk organik yang dapat diandalkan, atau membangun balai latihan pertanian dan peternakan yang lebih banyak disetiap sudut negeri atau membangun dermaga-dermaga para nelayan yang lebih representatif dll. Namun hal ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saat ini karena pemerintah tidak memiliki dana cukup untuk membangun infrastruktur itu.  Tapi ironisnya uang trilyunan rupiah seperti dalam kasus Bank Century 6.7 triliun, menguap tanpa bekas. Belum lagi uang-uang rakyat yang digelapkan dalam kasus BLBI dimasa lalu.

Kita semestinya malu bahwa selama 54 tahun Indonesia merdeka kita masih berkutat pada agenda-agenda pemberantasan KORUPSI. Kita mesti malu pada diri sendiri, kepada bangsa-bangsa dunia, kepada Tuhan YME, bahwa kita belum bisa membrantas korupsi sampai seakar-akarnya. Kita mestinya malu bahwa REFORMASI yang telah bergulir sejak tahun 1998 lalupun masih mensisakan praktek korupsi yang dilakukan oleh para penegak hukum dan pejabat pusat pemerintahan kita.

Oleh karena itulah maka pada kesempatan Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember 2009 ini kita segenap masyarakat Tani se Indonesia wajib hukumnya untuk mendorong pembersihan praktik korupsi dimanapun berada. Babat habis perilaku korupsi dan seret para pelanggar hukum ke pengadilan yang bersih.

Saatnya generasi tani melakukan perlawanan yang gigih terhadap praktek korupsi yang telah menyengsarakan rakyat, dan kita wajib berjuang untuk memperoleh kemerdekaan, kemandirian, kedaulatan , keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan yang kita dambakan.

Perjuangan para pendahulu kita belum selesai dan saatnya kita lanjutkan untuk mencapai cita-cita Indonesia yang Merdeka Adil dan Makmur.

Selamat Berjuang kadang taniku, benteng terakhir Indonesia. Maju Terus Pantang Mundur!. Keluhuran generasi kita yang akan datang sangat tergantung apa yang kita kerjakan saat ini, hari ini.

Singkirkan Kepala Batu ! Ganyang Koruptor ! Ganyang tikus-tikus berdasi !

Merdeka ! Merdeka !

Prasetyo Oedjiantono

Ketua Umum

Bangsa besar adalah bukan bangsa yang bergantung
Kekawatiran Indonesia akan tumbuh ke arah bangsa yang kerdil. Tidak ada bangsa besar yang tumbuh karena bergantung pada bangsa lain. Hal-hal yang kritis dan strategis harusnya diambil dan diputuskan oleh bangsa Indonesia yang berdaulat. Ini tidak terjadi di Indonesia. Kemauan politik para pemimpin negeri menunjukkan sikap dan watak, perilaku anak bangsa yang kerdil, tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup
.
Hal ini ditunjukkan dengan ketergantung pada bangsa lain dalam hal hal yang sangat sepele dan strategis yang semestinya menjadi tugas dan kewajiban yang diampu oleh individu dan pemimpin politik dan pemerinytahan di Indonesia dan itu menunjukkan kemampuan anak bangsanya secara luas.

Ambil saja contoh pesta demokrasi “Pileg” dan “Pilpres” 2009 yang baru saja selesai. Keterlibatan bangsa asing dalam bentuk donatur dan bantuan-bantuan lain dengan alasan macam-macam telah terjadi. Dengan alasan membantu perhitungan dan membantu server dan teknisi sistem IT Amerika melalui IFES (International Foundation for Electoral System) telah membantu KPU pada Pilpres 2009.

Sikap seperti ini seharusnya dibuang jauh dan tidak dilakukan. Indonesia telah menjadi bangsa besar yang memiliki ahli IT ribuan. Mengapa masih menerima bantuan negara besar hanya untuk hal yang sepele ini. Ini menunjukkan bahwa para pemimpin negeri ini masih berjiwa kerdil. Sikap ini kalah jauh dengan sikap para pekerja tingkat bawah yang berani berjuang sendirian dinegeri asing dengan mengandalkan kemampuan yang dia miliki. Sementara para pemimpin negeri ini telah menunjukkan kekecilan jiwa dan patriotismenya di negeri sendiri. Kekecilan jiwa ini telah dipertontonkan dimuka rakyatnya.

Akankah sikap seperti ini akan terus dipertahankan?

Salam
Prasetyo

Buku Sumber Ilmu,

Jangan lupa baca buku.

Buku baru bulan ini klick disini !

kelinci1

===========================================

Ternak Kelinci, Ternak Uang?

Ternak kelinci sama dengan ternak uang itu sudah jamak diketahui orang. Tiada yang tersisa dari setiap elemen kelinci. Baik daging, bulu atau pesona tubuhnya masing-masing memiliki manfaat luar biasa sehingga layak mendapat harga tinggi. Kalaupun di Indonesia daging kelinci masih tergolong murah, peternak tetap untung karena masih mendapatkan feses dan urin yang luar biasa manfaatnya.

Tiga faktor

Kalau sudah begitu, kenapa orang lantas tidak berbondong-bondong beternak kelinci?

Tentu ada pasti ada faktor di baliknya. Pertama, masyarakat kita sudah jauh dari “ideologi” beternak maupun bertani. Kebanyakan orang sudah bosan menyandang predikat tani. Peternak, termasuk petani itu identik dengan keterbekalangan. Ini berbeda dengan asumsi masyarakat negara maju di mana predikat petani sejajar dengan predikat usahawan di bidang teknologi, atau pengusaha modern lainnya.

Kalau di negara maju rata-rata anak-anak muda yang berlatar belakang keluarga petani dan memperoleh pendidikan pertanian/peternakan berusaha maksimal tetap mengembangkan dunia pertanian/peternakan, lain dengan kaum muda Indonesia. Bahkan sarjana pertanian pun enggan bertani. Mereka lebih memilih menjadi kuli-kuli dengan menyerahkan secarik kertas label sarjananya.

Kedua, tidak memiliki lahan dan sarana pendukung, seperti pasokan rumput, pengelolaan pakan dan lain sebagainya. Masalah konvensional yang akan selalu terjadi di belahan dunia manapun ini sering dijadikan alasan. Nusantara dengan dua pergantian dua musim serta sumberdaya alam yang sangat mendukung masih dianggap problem. Kita lupa bahwa di negara-negara lain kondisi alamnya kalah jauh dengan Indonesia justru dijadikan tantangan untuk meraih sukses.

Ketiga, ketidaksukaan pada hewan peliharaan.

Masalah pertama adalah faktor budaya. Ini adalah masalah mentalitas bangsa secara umum di mana kalangan muda kita lebih dengan gaji pragmatis ketimbang menjadi entrepreneur, terutama di bidang peternakan atau pertanian. Alih-alih mengejar potensi ternak, mengejar potensi dirinya saja tidak mampu. Mereka lebih suka menghargai dirinya sekedar sebagai kuli ketimbang jadi wirausaha mandiri. Masalah ini agak sulit dipecahkan karena sudah menjadi masalah mental.

Faktor kedua sebenarnya bisa dipecahkan. Kita tahu setiap usaha selalu ada halangannya,-baik lingkungan, sarana, modal maupun ilmu pengetahuan. Di sini, selama ada niat dan tekad untuk mewujudkan usaha dipastikan akan mendapat jalan keluar.

Sedangkan masalah ketiga adalah masalah selera yang bisa dimaklumi. Dunia usaha tidak sekedar ditentukan oleh modal atau keinginan, melainkan sangat erat ditentukan oleh hobi. Bahkan, hobi itu sendiri yang paling banyak menentukan kesuksesan orang untuk menjadi pengusaha sukses.

Karena itu, jika di antara kita sudah memiliki jiwa peternak sekaligus wirausahawan, berniat sungguh-sungguh dan mencintai kelinci, maka modal dasar inilah yang akan mengantarkan pada kesuksesan.

Soal modal uang, pemasaran, sarana pendukung, relasi dan ilmu pengetahuan bisa didapatkan sambil menjalankan usaha. Beternak kelinci butuh jiwa kewirausahaan karena tidak sekadar mengelola ternak, melainkan harus mahir memimpin gerbong peternakan yang mana di dalamnya terdapat komponen-komponen di luar urusan ternak.

Masalah pakan misalnya, membutuhkan pemahaman yang mendalam dari seorang peternak. Karena itu seorang peternak disyaratkan harus banyak memahami ilmu nutrisi hewan. Demikian juga dengan masalah kesehatan hewan. Seorang peternak yang baik juga dituntut mengenal kesehatan hewan beserta obatan-obatannya.

Pengolahan kotoran untuk pemanfatan pupuk juga menjadi bagian terpenting dari seorang peternak agar semua potensi yang ada pada kelinci bisa dimanfaatkan secara maksimal. Tak kalah pentingnya adalah kemampuan peternak dalam hal manajemen keuangan, manajemen pengelolaan karyawan, manajemen pemasaran dan lain sebagainya.

Bukan kelinci masalahnya

Mungkin prasyarat-prasyarat di atas sudah dipahami oleh banyak orang. Tetapi kenapa akhir-akhir ini banyak peternak yang hanya bertahan satu dua tahun memelihara kelinci?

Setelah penulis mengenali lebih dalam berbagai kegagalan peternak, ternyata letaknya bukan pada masalah kelinci itu sendiri, melainkan masalah pribadi seseorang. Mayoritas mereka yang tidak bisa melanjutkan beternak kelinci karena mereka tidak mampu menyelesaikan masalah pribadinya.

Satu contoh adalah pekerjaan kantoran. Kebanyakan para karyawan di kota hendak memainkan strategi ganda dengan tetap bekerja di kantor untuk mendapat gaji, sekaligus mendapatkan uang sambilan dari ternak kelinci. Tapi apa boleh buat, fakta membuktikan kegagalan sebagai ending dari proses yang tak serius ini. Pada mulanya mungkin merawat kelinci sangat menyenangkan, tetapi ketika ada masalah-masalah muncul di tengah jalan kita tak mampu mengatasinya.

Masalah kebersihan misalnya, menjelma sebagai kegiatan yang membosankan karena seolah-olah setiap pagi merasa diperbudak oleh kelinci piaraannya. Belum lagi urusan stok rumput, pelet dan urusan lain seperti saat keluar kota sehingga tak mampu mengurus kelincinya karena keluarga di rumah juga tidak bisa diandalkan.

Bagaimana kalau model investasi diterapkan?

Investasi dalam hal ternak yang kita kenal istilah gaduh (bagi hasil) bisa jadi solusi. Tetapi kita harus tahu benar siapa yang menjalankan usaha ini. Kita tahu investasi asal-asalan pada ternak kambing, domba atau sapi sering mengalami kegagalan. Penyebabnya bisa digeneralisasi karena ketidakberesan peternak itu sendiri.

Sebagian kecil sukses dan berjalan lancar, sementara sebagian besar mengalami kegagalan. Tentu akan lebih rumit investasi pada ternak kelinci. Investor yang baik harus mengetahui sejauh mana kemampuan, keseriusan dan kejujuran sang peternak.

Fokus sebagai prinsip

Memelihara kelinci sebagai hasil sampingan adalah cara kerja bermain api. Tak serius dan tak menawan dijadikan pelajaran. Jangankan karyawan yang tinggal di kota, usaha sambilan ternak kelinci para petani di desa pun sering mengalami kegagalan.

Para petani yang sukses beternak kelinci justru adalah mereka yang beternak secara serius dan tidak menempatkan usaha ternaknya sebagai sampingan. Beternak kelinci adalah kegiatan integral pertanian di mana pertanian menghasilkan pakan ternak, sedangkan kotoran ternak menghasilkan tanaman berkualitas.

Di sini, agaknya hukum besi sedang berlaku dengan mengacu pada sebuah pertanyaan, “apakah kau mau jadi karyawan atau jadi peternak? ”

Penulis jadi ingat ungkapan Mario Teguh, seorang motivator yang sedang banyak digandrungi orang-orang kota. Ia mengungkapkan, “dia yang mengejar dua ekor kelinci akan kehilangan dua kelinci. Itulah sebabnya, dalam berkarir, dalam bekerja, dalam mengejar suatu tujuan hidup selalu menempellah seperti perangko.”

Kalau hendak diperjelas maka pesan ini barangkali tepat dipraktekkan; kalau mau jadi karyawan, nikmatilah pekerjaan dan perolehan gaji apa adanya. Kalau mau jadi peternak, tinggalkan kerjaan dan fokus menikmati manis-pahitnya berwirausaha.

Faiz Manshur

Penulis Buku Kelinci, tinggal di Bandung


http://faizmanshur.wordpress.com

Krisis Finansial 2008,

Gelombang krisis keuangan kembali muncul dihadapan kita. Krisis kali ini jauh lebih dahsyat ketimbang krisis moneter tahun 1997 lalu yang melanda hampir seluruh wilayah Asia Tenggara. Krisis finansial saat ini yang mulai terasa dampaknya pada pertengahan tahun 2008 jauh lebih mengerikan karena melibatkan banyak negara besar dan kaya seperti Amerika, Eropa, Jepang dll. Hampir seluruh benua mengalami krisis global yang saat ini sedang menghantam semua negara. Kelesuan ekonomi akibat langkanya likuiditas menyebabkan beberapa perusahaan besar dan lembaga keuangan bangkrut. Tak hanya Bank-bank besar di Amerika dan eropa namun juga industri-industri raksasa seperti industri bijih besi dan baja, industri otomotif, industri kimia dan lain-lain mengalami kelesuan sebagai dampak dari langkanya likuiditas.

Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas timbulnya krisis finansial 2008 ini? Dalam beberapa tulisan kesalahan awal ada di negara-negara yang secara vocal mendukung ideologi sistem ekonomi yang sekarang beroperasi tanpa mengindahkan pendapat dan pertimbangan lain yang muncul dari masyarakat. Dengan kata lain sebut saja ideologi kapitalisme yang secara vocal mempengaruhi kebijakan ekonomi global. Adalah keserakahan Wall Street yang mendorong terjadinya krisis finansial 2008 ini karena disanalah semua krisis 2008 berasal.

Negara-negara di kawasan Asia mulai risau menghadapi krisis keuangan saat ini, di Indonesia akibat krisis ini adalah munculnya ketidak stabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang menjadi tumpuan perdagangan barang-barang investasi, peralatan produksi, barang elektronik dll. Disamping itu menurunnya permintaan akan produk eksport seperti kelapa sawit, produk tekstil dan hasil bumi lainnya. Karena kesulitan keuangan ini negara-negara yang setia membeli barang-barang produk eksport Indonesia saat ini menurunkan volume atau sama sekali tidak melakukan pembelian. Banyak perusahaan tekstil sudah mulai melakukan PHK dan kecenderungan itu akan terus berlanjut.

Krisis kali ini diramalkan juga akan berdampak pada bidang politik, antara lain menurunnya popularitas dan status Amerika sebagai negara super power yang mengatur ekonomi dunia. Bagi Indonesia yang sedang menghadapi Pemilu 2009, meskipun gejolak ini belum begitu hebat dampaknya bagi masyarakat (karena kesibukan mengurusi Pemilu 2009), namun bagi kalangan dunia usaha krisis kali ini sudah mulai membingungkan. Terutama ketidak stabilan nilai tukar dan keraguan atas perbankan kita. Apakah perbankan kita akan tahan atau tidak dalam menghadapi gelombang besar ini. Sejauh ini baru satu Bank yang menjadi korban, yaitu Bank Centuri yang diambil alih oleh Lembaga Penjaminan Simpanan. Namun apakah akan ada lagi bank lain yang bernasib sama? Semua masih teka-teki.

Belajar dari sini mestinya kita harus melihat kiblat perekonomian kita yang lebih dari 40 tahun mengarah ke Amerika dan Barat. Bahkan kita pernah mengalami euphoria “America” dan “Barat”. Semua sistem dan produk yang berasal dari Amerika dan barat kita terima dan telan habis-habisan. Saat ini mungkin merupakan saatnya kita kembali ke jati diri Indonesia. Menjadikan kemandirian adalah yang utama. Pemerintah mestinya harus lebih konsern atas produk lokal dan mendorong produktifitas rakyat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dari hasil keringat rakyat sendiri.

Pemikiran kembali perlunya re-engineering atas sistem ekonomi yang selama ini kita anut yang semula bertumpu kepada pemikiran dan konsep para industrialis besar dan kaya yang cenderung mengesampingkan usulan-usulan dari para praktisi perekonomian lainnya. Menyusun kembali sistem ekonomi dengan melibatkan partisipasi masyarakat barangkali akan lebih baik ketimbang sistem ekonomi selama ini.

Mari kita hadapi gelombang itu dengan tegar !

Prasetyo Oedjiantono,
tanimaju

Baca sumber link berikut:

Anup Shah, Global Financial Crisis 2008, GlobalIssues.org, Last updated: Sunday.

Finacial Crisis Closes in on General Motor, The Financial Express

“Berita Tani Maju 2005 di web”